Namaku Carla, aku bekerja sebagai customer service di salah satu brand makanan ternama. Kali ini aku ditempatkan pada pertengahan shift, dimana aku harus datang pada pukul satu siang dan pulang pukul sepuluh malam. Sebenarnya aku cukup merasa keberatan jika harus pulang malam, terlebih lagi jarak kantor dan rumahku cukup jauh. Biasanya ayah yang selalu menjemputku dengan motornya, namun barusan beliau meneleponku, katanya tiba-tiba saja mesin motor rusak dan sedang diperbaiki. Hingga disinilah aku berada, di sebuah halte bus dengan pencahayaan remang-remang beserta seorang wanita berambut pirang yang sedang asyik membaca majalah.
Tak bisa berada pada keadaan hening yang terlalu lama akhirnya aku mencoba untuk membuka sedikit obrolan.
"Hai mbak, baru pulang kerja?"
Bukannya menjawab, ia malah memandangku seolah terkejut, nampaknya ia baru menyadari keberadaanku sangkin keasyikan membaca buku majalahnya.
"Kalo boleh tau, kerja dimana mbak?" tanyaku lagi yang berusaha menyairkan suasana.
Setelahnya ia hanya menunjuk ke gedung yang juga merupakan tempatku bekerja.
"Oh, berarti kita kerja di gedung yang sama ya mbak, mbaknya kerja di devisi apa?"
Tak ada jawaban, rasanya aku menyesal telah mencoba buka pembicaraan. Lagipula siapa juga yang peduli dengan siapa dan di devisi apa dia bekerja?
Hening beberapa saat, yang aku lakukan hanyalah terus menengok kearah jalan raya, memastikan kedatangan bus yang akan mengantarkan ku ke rumah. Namun nampaknya tak ada tanda-tanda bus akan datang. Yang terlihat hanya pria berkupluk hitam yang berdiri agak jauh dari tempatku berada. Pria itu terlihat sedang menatapku dengan tajam, sorotnya membuat diriku cukup merinding. Bagaimanapun juga hari sudah malam, dan rasanya aku mulai merasa ketakutan.
"Mbak baru pulang kerja?"
Aku terkesiap, karena tiba-tiba saja wanita di sampingku mengeleluarkan suara.
"Eh, iya." kata ku dengan canggung sambil mencoba tersenyum kearahnya.
"Pulang naik bus ya?"
"Iya, lagi gak dijemput."
"Hati-hati mbak." kata si wanita dengan mencurigakan.
"Hati-hati kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ya hati-hati aja." katanya sambil lanjut membaca majalahnya.
Setelah mendengar peringatan dari wanita tak dikenal disebelahku ini, aku refleks menolah kearah pria yang barusan aku perhatikan. Tatapannya semakin aneh, ia memandangiku dari atas sampai bawah kemudian keatas lagi, alisnya mengkerut tanpa ku tahu kenapa, ia mengeratkan jemari kanannya, nampaknya ia sedang menggenggam sesuatu.
Aku mulai panik, terlebih saat si pria perlahan melangkah kearahku. Derap langkahnya sangat pelan tapi pasti, terdengar jelas ketukan irama yang bersumber dari sepatu kulit yang sedang ia kenakan. Ia semakin pasti menatapku, hingga dengan gerakan spontan ku ambil majalah yang sedang di pegang si wanita untuk menghalangi wajahku dari tatapannya. Si pria semakin dekat, dan aku semakin ketakutan terbukti dengan peluh yang mengucur melewati keningku, rasanya aku ingin lari dan cepat-cepat pulang. Dan bus datang dalam waktu yang begitu tepat, tak mau mengulur waktu, aku langsung saja berdiri dan melambaikan tangan kearah bus.
Begitu masuk kedalam bus, aku langsung duduk didekat jendela, merasa lega karena pada akhirnya aku terselamatkan dari ancaman berbahaya. Namun nampaknya kegelisahanku dipaksa untuk terus berlanjut karena rupanya sang pria juga menaiki bus yang sama sepertiku. Ia memandang kearahku dan menatapku secara terang-terangan. Aku takut, bagaimana jika ternyata dia seorang penguntit dan berniat melakukan tindak kejahatan padaku?
Lalu dia tersenyum dan kemudian duduk persis disampingku.
"Hai mbak, pulang sendirian?" tanyanya yang membuatku menatapnya dengan was-was.
"I,iya." kataku yang berusaha untuk tersenyum.
"Anu, saya mau tanya. Tadi saya liatin mbaknya kayak lagi ngobol sendiri gitu, ngobrol sama siapa ya mbak?"
Aku yang awalnya merasa takut kepada si pria tersebut justru kini merasa geli sendiri. Apa yang barusan dia pertanyakan? Jelas-jelas aku tadi berbicara pada seorang wanita.
"Jadi itu yang bikin masnya liatin saya sampe segitunya? Ya saya lagi ngobrol sama oranglah. Emangnya saya gila, ngobrol sendiri." kataku sambil setengah tertawa.
"Tapi masalahnya saya emang cuma ngeliat mbaknya sendirian. Saya pengen deketin tapi embaknya keburu naik bus."
"Yaampun mas masa saya ngomong sendiri sih, nih liat buktinya saya sampe pinjem majalah ini buat nutupin muka saya biar masnya gak ngeliatin saya terus."
Si pria tampak begitu serius memandangi majalah yang sedang aku pegang, dan dengan suara rendah ia berkata,
"Mbaknya coba deh liat edisi tahun berapa majalah itu dibuat."
Sesuai instrukturnya, aku langsung melihat bagian sampul dari majalah tersebut. Begitu menyadari hal tersebut, wajahku langsung pucat pasi.
'Majalah Edisi: 6 april 1998'
Tak bisa berada pada keadaan hening yang terlalu lama akhirnya aku mencoba untuk membuka sedikit obrolan.
"Hai mbak, baru pulang kerja?"
Bukannya menjawab, ia malah memandangku seolah terkejut, nampaknya ia baru menyadari keberadaanku sangkin keasyikan membaca buku majalahnya.
"Kalo boleh tau, kerja dimana mbak?" tanyaku lagi yang berusaha menyairkan suasana.
Setelahnya ia hanya menunjuk ke gedung yang juga merupakan tempatku bekerja.
"Oh, berarti kita kerja di gedung yang sama ya mbak, mbaknya kerja di devisi apa?"
Tak ada jawaban, rasanya aku menyesal telah mencoba buka pembicaraan. Lagipula siapa juga yang peduli dengan siapa dan di devisi apa dia bekerja?
Hening beberapa saat, yang aku lakukan hanyalah terus menengok kearah jalan raya, memastikan kedatangan bus yang akan mengantarkan ku ke rumah. Namun nampaknya tak ada tanda-tanda bus akan datang. Yang terlihat hanya pria berkupluk hitam yang berdiri agak jauh dari tempatku berada. Pria itu terlihat sedang menatapku dengan tajam, sorotnya membuat diriku cukup merinding. Bagaimanapun juga hari sudah malam, dan rasanya aku mulai merasa ketakutan.
"Mbak baru pulang kerja?"
Aku terkesiap, karena tiba-tiba saja wanita di sampingku mengeleluarkan suara.
"Eh, iya." kata ku dengan canggung sambil mencoba tersenyum kearahnya.
"Pulang naik bus ya?"
"Iya, lagi gak dijemput."
"Hati-hati mbak." kata si wanita dengan mencurigakan.
"Hati-hati kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ya hati-hati aja." katanya sambil lanjut membaca majalahnya.
Setelah mendengar peringatan dari wanita tak dikenal disebelahku ini, aku refleks menolah kearah pria yang barusan aku perhatikan. Tatapannya semakin aneh, ia memandangiku dari atas sampai bawah kemudian keatas lagi, alisnya mengkerut tanpa ku tahu kenapa, ia mengeratkan jemari kanannya, nampaknya ia sedang menggenggam sesuatu.
Aku mulai panik, terlebih saat si pria perlahan melangkah kearahku. Derap langkahnya sangat pelan tapi pasti, terdengar jelas ketukan irama yang bersumber dari sepatu kulit yang sedang ia kenakan. Ia semakin pasti menatapku, hingga dengan gerakan spontan ku ambil majalah yang sedang di pegang si wanita untuk menghalangi wajahku dari tatapannya. Si pria semakin dekat, dan aku semakin ketakutan terbukti dengan peluh yang mengucur melewati keningku, rasanya aku ingin lari dan cepat-cepat pulang. Dan bus datang dalam waktu yang begitu tepat, tak mau mengulur waktu, aku langsung saja berdiri dan melambaikan tangan kearah bus.
Begitu masuk kedalam bus, aku langsung duduk didekat jendela, merasa lega karena pada akhirnya aku terselamatkan dari ancaman berbahaya. Namun nampaknya kegelisahanku dipaksa untuk terus berlanjut karena rupanya sang pria juga menaiki bus yang sama sepertiku. Ia memandang kearahku dan menatapku secara terang-terangan. Aku takut, bagaimana jika ternyata dia seorang penguntit dan berniat melakukan tindak kejahatan padaku?
Lalu dia tersenyum dan kemudian duduk persis disampingku.
"Hai mbak, pulang sendirian?" tanyanya yang membuatku menatapnya dengan was-was.
"I,iya." kataku yang berusaha untuk tersenyum.
"Anu, saya mau tanya. Tadi saya liatin mbaknya kayak lagi ngobol sendiri gitu, ngobrol sama siapa ya mbak?"
Aku yang awalnya merasa takut kepada si pria tersebut justru kini merasa geli sendiri. Apa yang barusan dia pertanyakan? Jelas-jelas aku tadi berbicara pada seorang wanita.
"Jadi itu yang bikin masnya liatin saya sampe segitunya? Ya saya lagi ngobrol sama oranglah. Emangnya saya gila, ngobrol sendiri." kataku sambil setengah tertawa.
"Tapi masalahnya saya emang cuma ngeliat mbaknya sendirian. Saya pengen deketin tapi embaknya keburu naik bus."
"Yaampun mas masa saya ngomong sendiri sih, nih liat buktinya saya sampe pinjem majalah ini buat nutupin muka saya biar masnya gak ngeliatin saya terus."
Si pria tampak begitu serius memandangi majalah yang sedang aku pegang, dan dengan suara rendah ia berkata,
"Mbaknya coba deh liat edisi tahun berapa majalah itu dibuat."
Sesuai instrukturnya, aku langsung melihat bagian sampul dari majalah tersebut. Begitu menyadari hal tersebut, wajahku langsung pucat pasi.
'Majalah Edisi: 6 april 1998'
Harrah's Las Vegas Casino & Hotel - MapYRO
BalasHapusHarrah's Las Vegas 광주광역 출장샵 Hotel features 제천 출장샵 a wide 광양 출장샵 variety of 평택 출장마사지 entertainment attractions. Book the Harrah's Las Vegas or your 영천 출장안마 next hotel stay with a