Called Zombie (cerpen)
Inspired by The Cranberries~
Baru saja saya mematikan televisi setelah tak sengaja melihat siaran berita tentang porak poranda nya sebuah kota karena serangan militer dari negara lawan. Saya tak pernah menyukai berita semacam itu, terlalu banyak darah dan tangisan serta kejadian menyedihkan yang akan terus menyangkut dalam otak saya. Pemikiran tantang betapa kejamnya manusia yang tinggal dimuka bumi ini.
Apa yang sedang mereka lakukan? Tak pernah kah mereka berfikir bagaimana rasanya menjadi salah satu korban dari apa yang mereka perbuat? Tega kah mereka melihat bangunan runtuh dengan manusia yang tanpa nyawa tertimbun didalamnya? Bagi saya manusia-manusia kejam itu tak ubahnya seperti zombi dalam film-film fiksi yang sering saya tonton, makhluk yang kehilangan akal sehat serta hati nurani sehingga sampai hati mereka memangsa yang lainnya.
Mengapa semua kekacauan itu bisa sampai terjadi? Perperangan yang meniadakan beratus-ratus nyawa tak berdosa yang sebenarnya tak ikut terlibat, bukankah mereka berhak hidup selayaknya manusia lainnya yang hanya menumpang di muka bumi ini? Jika perbedaan adalah alasan utama mereka saling membunuh, lalu sampai kapan dunia ini akan damai?
Perbedaan memang akan selalu ada, bahkan dalam kesamaan sekalipun. Lalu tidak bisakah mereka menerima dan berbaur dalam perbedaan tersebut? Atau setidaknya cobalah untuk berpura-pura melupakan ketidaksamaan. Apa itu sulit?
Ah, hampir saja melupakan fakta bahwa saya sedang membicarakan makhluk hidup bernama manusia. Makhluk yang tercipta paling istimewa dimuka bumi ini karena memiliki akal sehat, namun paling berpotensi untuk menghancurkan tempat mereka tinggal. Makhluk dengan egoisme tinggi yang selalu berhasrat untuk memuaskan nafsunya, beberapa dari mereka sering kali tak peduli bagaimanapun caranya.
Kalau sudah seperti ini, rasanya penggambaran saya tentang manusia serupa zombi itu tidaklah terlalu buruk. Zombi yang kehilangan akal sehat serta hati nurani dan berambisi memangsa otak manusia. Mereka adalah zombi. Kini pun saya sadar kalau otak saya telah terburu, terdistrak dan menjadi bagian dari zombi. Bagaimana bisa? Sebab saya membutakan mata dan menulikan telinga, menepiskan kenyataan bahwa mereka yang lemah membutuhkan saya hanya karena saya berpikir bahwa mereka bukan bagian dari saya.
But you see, it's not me, it's not my family
In your head, in your head they are fighting
With their tanks and their bombs
And their bombs and their guns
In your head, in your head, they are dying
~Zombie - The cranberries~
Inspired by The Cranberries~
Baru saja saya mematikan televisi setelah tak sengaja melihat siaran berita tentang porak poranda nya sebuah kota karena serangan militer dari negara lawan. Saya tak pernah menyukai berita semacam itu, terlalu banyak darah dan tangisan serta kejadian menyedihkan yang akan terus menyangkut dalam otak saya. Pemikiran tantang betapa kejamnya manusia yang tinggal dimuka bumi ini.
Apa yang sedang mereka lakukan? Tak pernah kah mereka berfikir bagaimana rasanya menjadi salah satu korban dari apa yang mereka perbuat? Tega kah mereka melihat bangunan runtuh dengan manusia yang tanpa nyawa tertimbun didalamnya? Bagi saya manusia-manusia kejam itu tak ubahnya seperti zombi dalam film-film fiksi yang sering saya tonton, makhluk yang kehilangan akal sehat serta hati nurani sehingga sampai hati mereka memangsa yang lainnya.
Mengapa semua kekacauan itu bisa sampai terjadi? Perperangan yang meniadakan beratus-ratus nyawa tak berdosa yang sebenarnya tak ikut terlibat, bukankah mereka berhak hidup selayaknya manusia lainnya yang hanya menumpang di muka bumi ini? Jika perbedaan adalah alasan utama mereka saling membunuh, lalu sampai kapan dunia ini akan damai?
Perbedaan memang akan selalu ada, bahkan dalam kesamaan sekalipun. Lalu tidak bisakah mereka menerima dan berbaur dalam perbedaan tersebut? Atau setidaknya cobalah untuk berpura-pura melupakan ketidaksamaan. Apa itu sulit?
Ah, hampir saja melupakan fakta bahwa saya sedang membicarakan makhluk hidup bernama manusia. Makhluk yang tercipta paling istimewa dimuka bumi ini karena memiliki akal sehat, namun paling berpotensi untuk menghancurkan tempat mereka tinggal. Makhluk dengan egoisme tinggi yang selalu berhasrat untuk memuaskan nafsunya, beberapa dari mereka sering kali tak peduli bagaimanapun caranya.
Kalau sudah seperti ini, rasanya penggambaran saya tentang manusia serupa zombi itu tidaklah terlalu buruk. Zombi yang kehilangan akal sehat serta hati nurani dan berambisi memangsa otak manusia. Mereka adalah zombi. Kini pun saya sadar kalau otak saya telah terburu, terdistrak dan menjadi bagian dari zombi. Bagaimana bisa? Sebab saya membutakan mata dan menulikan telinga, menepiskan kenyataan bahwa mereka yang lemah membutuhkan saya hanya karena saya berpikir bahwa mereka bukan bagian dari saya.
But you see, it's not me, it's not my family
In your head, in your head they are fighting
With their tanks and their bombs
And their bombs and their guns
In your head, in your head, they are dying
~Zombie - The cranberries~
Komentar
Posting Komentar