I am Philophobia (Cerpen)
by sns
“Jadi, gue ini match ke dua ratus, dari sepuluh ribu orang yang ngeswipe right lo?” Tanya pria berkacamata dengan intonasi tenang seolah hal tersebut bukanlah suatu kejadian yang patut dibesar-besarkan.
“Actually yes, dan kayaknya lo orang ke sepuluh yang bertahan sampe berujung meet up kayak gini.” Balasku santai sambil terus mengunyah ayam winger kesukaanku.
“Wow, mengerucut banget ya. Emangnya apa spesifikasi khusus yang ngebuat lo mau meet up sama kesepuluh orang itu, termasuk gue?”
Kupandangi pria yang kukenal melalui salah satu aplikasi dating dengan seksama. Nama panggilannya Indra, umurnya 23, berzodiak virgo, hobi menulis. Menurutku tampangnya lumayan, style cukup keren, dan dia merupakan mahasiswa fakultas psikologi di kampus ternama. Not really bad isn’t it?
“Oh, jadi gini rasanya ngobrol empat mata sama anak psikolog, berasa lagi diwawancara.” Kataku yang dengan spontan memutar kedua bola mata.
“Tapi serius loh, gue penasaran. Barangkali lo mau share pengalaman sama gue, I’m so open.” Balasnya santai sambil menyeruput ice coffe cup yang ia genggam.
Kuteliti lebih dalam lagi pria yang notabene baru kukenal hari ini, seumur-umur aku berkenalan dengan orang asing, belum pernah ada yang langsung menawarkan sesi curhat seperti dia.
“Jadi, serius lo mau dengerin cerita gue dari awal sampe akhir?”
**
Semua kisah merah jambu ku berawal dari cinta pertama saat ku mengenyam bangku sekolah menengah pertama. Semua mengalir begitu saja. Aku pergi sekolah lalu bermain dengan sahabat priaku dan jatuh cinta dengannya.
Mungkin saat itu aku masih terlalu belia untuk sekedar menyikapi rasa berbunga-bunga yang muncul hanya pada saat aku bersama dengan sahabatku itu. Aku tak pernah mengutarakan apa yang aku rasa dengan alasan takut dia menghindar dan tidak ingin berteman denganku lagi, hingga ada masa dimana ia akhirnya menjauh karena telah memiliki kekasih.
Saat itu aku hancur bukan main, aku si gadis belia yang baru mengenal cinta mesti juga merasakan pahitnya terkena zona teman dan patah hati di usia dini. Hal tersebut cukup memporak-porandakan pandanganku terhadap cinta. Sembilan tahun aku menutup rapat-rapat hatiku agar tak terjamah oleh siapapun.
“Wait, that’s mean sampe lo SMA, lo gak pernah pacaran?” Kata Indra yang dengan semena-mena menginterupsi ceritaku.
“Yups, mungkin gue terlalu takut buat ngerasain patah hati yang bener-bener bikin gue kek orang bego, dan lo harus tau setelah itu gue gak pernah mau yang namanya suka sama orang yang satu circle sama gue.”
“That’s way ya cara lo PDKT itu selalu dari medsos.”
“Oh iya? Anjir gue baru sadar loh sumpah!” Aku histeris sendiri mendengar penuturannya.
“Menurut gue, lo itu orangnya paling anti sama yang namanya jatoh dua kali. So what are you lookin’ for?”
“I’m lookin’ for partner of course.”
“Demi pengakuan sosial?” Kata Indra berusaha sarkas.
“Nope! More than that. I’m seriously lookin’ for partner yang bisa gue ajak berkomitmen.”
“I get what you mean. But you have to know kalo komitmen yang ada dipikiran lo tuh gak sama seperti apa yang kebanyakan orang pikirin.”
“Emangnya apa maksud komitmen menurut gue?” Aku mengerutkan kening, nampaknya pembicaraan menjadi semakin panas saja.
“Komitmen menurut lo itu hubungan serius dengan pemikiran matang. Which mean sebelum lo mengaplikasikan komitmen itu, lo bakal nyari sosok gambaran sempurna dari isi otak lo.”
“Jujur sebelumnya gue udah nemu satu orang itu, mungkin saat itu gue terlalu naif sampe akhirnya jatuh cinta sama dia sampe mantekin dia buat jadi cowok idaman gue.”
“Oh ya, Kenapa bisa lepas?” Tanya Indra yang rupanya berusaha lebih jauh lagi menggali segala informasi tentang pengalaman asmaraku.
“Karena tiba-tiba dia cuek dan gue berspekulasi kalo dia udah ada yang baru, karena gue paling gak suka jadi option so ya, ego gue berkata kalo gue harus ninggalin dia. Walaupun sumpah sampe sekarang gue masih suka nangis bombay cuma karena kepikiran dia doang.”
“Bom! Dan pasti tebakan lo bener?”
“Yass! Abis itu udah gitu aja, gue coba buat PDKT sama orang tapi selalu gagal, mungkin karena gue terlalu mementingkan diri gue sendiri?” Kataku yang lebih bertanya pada diri sendiri.
“Lo pasti udah cukup ngerti ya kalau hubungan itu bukan cuma soal diri lu dan kebutuhan lu sendiri.”
“Gue tau persis, tapi gini loh. Gue udah terlalu banyak liat case negatif menyangkut hubungan apalagi pernikahan, dan gue gak mau nasib gue kayak gitu.” Jelasku sambil bergidik ngeri.
“Maya, lu mau tau gak diagnosis dari segala rentetan cerita lu apa?” Kata Indra dengan intonasi serius.
“What the....”
“Philophobia, satu penyakit mental dalam diri seseorang yang takut untuk jatuh cinta dan dicintai. Penghidap penyakit ini biasanya pernah melalui sendiri atau pengalaman orang lain hal-hal yang tidak menyenangkan dalam percintaan.”
“F*ck!”
Tamat
Nicee
BalasHapus